hari ini di tahun lalu adalah hari penuh kecemasan dan ketidakpastian.
sakitmu pa, membuat kami cemas...
dan ternyata itulah jalanmu untuk berpulang
kini hampir setahun berjalan
kehilangan itu tetap membekas
rasa sakit itu masih sama
ibarat duri yang dicabut dari kerongkongan
sakit menyadari kau sudah tak bersama kami lagi
satu yang kutahu pasti
besarnya cintamu padaku... cuma bisa kubalas dengan mencintaimu di sisa usiaku...
engkaulah ayah yang selalu kurindukan
yang selalu kuceritakan pada anak-anak
sosok opung yang selalu mencintai cucu-cucunya
tempat anak-anak berlari ke pelukan
tenanglah pa di sisiNya
semoga dengan rahmat ALLaH, kita bertemu lagi di surgaNya...
amin
Jakarta 20 oktober 2011
Kamis, 20 Oktober 2011
Sabtu, 03 September 2011
Lebaran Pertama tanpa Papa
Lebaran kemarin... di hari kedua, kami semua berangkat ke Sindang Barang. Membelah macetnya parung, setelah menginap di rumah baru mama di Ciputat.
Menjejakkan kaki di Sindang Barang, rumah kebanggaan papa... rasanya ada yang hilang. Karena papa gak ada di sana.
hanya sapaan rumpun bunga cempaka yang kita tanam kala itu, menyadarkan aku, memang di sinilah rumah yang papa banggakan itu.
aku terlarut dalam sedih tak bertepi
pohon-pohon besar sudah ditebang. khawatir rubuhnya merusak rumah yang sudah tua ini.
tapi kenangan akan papa, tak mungkin lenyap.
Lebaran Idul Fitri ini...
pertama kali kami lewati tanpamu Pa
teringat kala Idul Fitri terakhir
papa menangis, usai sholat. Tertampak wajah nenek di hadapan...
sedemikian rindunyakah kau pa... pada nenek
sedemikian kuatkah panggilan "pulang" itu...
papa....
tinggal kami disini sekuat tenaga berusaha menjaga...
mama, ibu kami... istrimu yang jadi amanah bagi kami...
semoga damai di kuburmu
semoga bahagia di penantianmu
semoga Allah kucurkan rahmatNya padamu
Papa...
dengan segenap hatiku...
aku selalu mencintaimu
aku selalu bangga menjadi anakmu...
Hari Keempat Syawal 1432 h
Selasa, 12 Juli 2011
menuju rumahNya
Hari ini, 13 juli 2011, aku berangkat umroh. Bersama mas upi dan bung iwan. Seorang saudara laki-laki yang dititipkan Allah dengan perantara papa.
Betapa bersyukurnya aku dengan karunia persaudaraan ini. Betapa bahagianya kami, karena papa telah meninggalkan ikatan cinta yang kuat di hati anak-anaknya.
Meski berlainan ibu, itu tidak menyebabkan kami saling berjauhan.
Ya karena papa, kami bisa bersaudara dengan manis. Rukun dan penuh kasih.
Terima kasih pa...
Semoga Allah membalas kebaikan yang papa lakukan... Amin
Betapa bersyukurnya aku dengan karunia persaudaraan ini. Betapa bahagianya kami, karena papa telah meninggalkan ikatan cinta yang kuat di hati anak-anaknya.
Meski berlainan ibu, itu tidak menyebabkan kami saling berjauhan.
Ya karena papa, kami bisa bersaudara dengan manis. Rukun dan penuh kasih.
Terima kasih pa...
Semoga Allah membalas kebaikan yang papa lakukan... Amin
Kamis, 10 Maret 2011
Jalan sunyiku
Adakah yg lebih menyedihkan dr kesunyian.
Tanpamu
tiadanya dirimu
membuatku selalu rindu
akan tegurmu atas segala salahku
pelukmu untuk cintamu
ciummu atas sayangmu
ah pa
aku selalu rindu
menyayat sangat
saat kujalani dengan nyanyian sunyi kehidupan
Tanpamu
tiadanya dirimu
membuatku selalu rindu
akan tegurmu atas segala salahku
pelukmu untuk cintamu
ciummu atas sayangmu
ah pa
aku selalu rindu
menyayat sangat
saat kujalani dengan nyanyian sunyi kehidupan
Selasa, 01 Februari 2011
bright your grave

Apa kabar pa... Semoga Allah tak melepaskan rahmatNya untukmu di kubur sana. Tempat penantianmu menuju Yaumil Hisab... semoga kita berjumpa lagi dalam barisan orang-orang shalih yang mendapat syafaat dari Rasulullah Muhammad SAW.
Papaku tercinta...
rindu ini memang tidak bisa dititipkan kepada siapa-siapa.
Kecuali pada Allah yang maha Rahman dan maha Rahiim dan Maha segalanya. Dia pasti mampu menyampaikan rasa rindu ini ke tempatmu sekarang.
Ayahku tercinta...
kenapa baru saat ini kusadari bahwa kasihmu tidak pernah berujung. segala amarahmu yang dulu menyulut kebencianku padamu, tak lebih dari wujud rasa cinta yang bertukar rupa. segala jatuh bangunmu dalam berusaha, adalah upayamu menghidupi keluargamu yang tidak sedikit. Keluarga yang menjadi tanggungjawabmu di hadapan Rabbmu kelak.
Ah papa...
kalau kau tidak demikian gigih menjadikan malam bagai siang. Dan siang tetap sebagai siang. Mana mungkin anak-anakmu sekarang tumbuh dengan tegak, survive menghadap dunia yang jauh lebih keras dibanding masamu dulu.
Papaku yang penuh dengan kasih...
beberapa hari lalu datang orang yang mengaku sangat dekat denganmu. Bahkan membuatku terposisikan cuma menjadi anak yang tak lebih tau apa-apa dibanding dirinya. Namun dia menuntut aneka macam materi atas kedekatannya padamu. Ah papa... aku tahu, sangat tahu.. bahwa aku, abang-abang dan adik adalah yang paling berharga untukmu di dunia ini.
Karenanya di saat-saat terakhir pun ketika kau pergi, tak lepas tanganmu dari genggaman anak-anakmu. Tak ingin kehilangan pelukan-pelukan dari anak-anakmu. Dan aku tau... kau pun merasakan lega, saat kuucapkan kalimat cintaku padamu. "Papa... aku ikhlas Allah menakdirkan aku menjadi anak Papa... Demi Allah, aku ikhlas.."
Orang yang datang itu hanyalah sebuah ujian kecil kecintaan kami padamu. Insya Allah akan kami selesaikan. Dan kami yakin, rezeki Allah lebih luas dari semua itu.
Papa...
tenanglah di sana...
bahagialah di sana...
anak-anaku selalu mendoakanmu
cucu-cucumu selalu mengingat dirimu
seperti yang Adilia katakan, "Ya Allah... kumpulkanlah Opung, aku, ummi, abi, jiddah, dan adik Hamzah bersama orang-orang shalih yang mendapat syafaat dari RasulMu, di surgaMu nanti. Amin"
Jumat, 31 Desember 2010
2010 tahun kehilangan
beberapa waktu lagi tahun ini akan berlalu.
dan akan kumulai tahun yang baru.
tanpa ada papa di sana
mulai 2011 lah tiada lagi wajah ayah dalam hari-hariku
tidak ada lagi sosok kakek dalam hidup anak-anakku
yang tersisa ci'dun, adiknya mama
karena bahkan papa nunun pun, sudah ikut berpulang sebulan setelah papa pergi.
Akan kulanjutkan hidup ini pa...
menjaga mama
menjaga cucu-cucumu *anak-anakku dan keponakan-keponakanku*
menjaga abang dan adikku yang dipersatukan Allah karenamu, Pa...
juga menjaga suamiku, menantu lelakimu satu-satunya
mulai besok
tahun-tahun ke depan tidak ada lagi papa
sudahkah aku sampaikan, betapa aku sangat kehilangan...?
Rabu, 15 Desember 2010
Lasagna
inilah menu terakhir yang dinikmati papa dengan perasaan ikhlas... maksudnya gak pake dipaksa-paksa. cuma disuapin sama aku aja kok. Sebenarnya bukan cuma lasagna... ada makaroni... ada kentang panggang bolognaise.
kentang panggang mungkin yang paling terakhir papa nikmati ya...
sampe dua cup kecil aku suapin papa waktu di griya puspa.
pulang dari griya puspa, kondisi papa drop. gak ada makanan yang masuk lagi... bahkan waktu aku bikinkan kaastengel pun papa sudah gak bisa. ya.. efek penyinaran itu bikin tenggorokan papa rasanya terbakar. sakit makan, minum bahkan bicara.
Tapi aku menyaksikan sendiri, betapa papa demikian sabar atas derita sakit itu. Cuma bisa bilang sama Papa..."Pa, kalau papa sabar dan gak mengeluh, insya Allah jadi sarana penghapus dosa. Papa yang sabar ya... yang ikhlas atas kehendak Allah"
Papa mengangguk dan memeluk aku...
Pa... aku sayang papa
Dipeluknya aku demikian erat....
Langganan:
Postingan (Atom)
