Jumat, 31 Mei 2013

Bunga Bondar : Saat Wajah ini Demikian Akrab

Tak ada yang meragukan bahwa aku adalah cucu Opung Dokter Diapari, saat kudatangi kampung Bunga Bondar, Sipirok, Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Raut wajah ini rupanya mudah dikenali karena mirip dengan beberapa kerabat Opung. Mirip dengan salah satu adik Opung, bahkan dinilai mirip pula dengan ibunda Opung, Hanafiah Hoetasoehoet rahimahullah.

Ya di kampung inilah, wajahku dikenali. Tak dianggap aneh dan berbeda... :) Di kampung ini pula, kutemui banyak perempuan yang mengakrabi aku karena aku cucu dari seorang laki-laki yang dibanggakan kampung itu, Dokter Diapari. Bagaimana bisa menepis rasa haru yang datang saat itu. Aku harus datang lagi ke Bunga Bondar. Inilah kampung halamanku. Inilah kampung yang Papa sering bicarakan dulu. Di kaki gunung, di lembah padi yang menguning.

Jujurly, gak bisa tahan tangis saat berziarah di makam kakeknya Opung. Semoga Allah merahmati kakek dan nenek moyang kami, dan melapangkan kuburnya.  Bagaimanapun juga, setelah mati seorang anak adam, terputus segala amalnya, kecuali tiga hal. Amal jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak-anak yang shalih. Saat ini, doalah yang menjadi tumpuan para orang tua, kakek nenek dan leluhur yang sudah wafat untuk menambahkan timbangan amal mereka. Bahkan dalam hadits dikisahkan, seorang mayit di alam kuburnya bertanya-tanya saat Allah memberikan kebaikan padanya, "ada apa ini...?" dan jawabannya adalah, "Anakmu, memohonkan ampun bagimu..."

Begitulah Allah demikian baik....
karena memberikan aku kesempatan untuk sampai di kampung keluarga, di Bunga Bondar sana. Jarak 12 jam dari Medan, insya Allah cukup berharga ditukar dengan kebahagiaan bertemu dan berkumpul dengan sanak saudara di sana.

Oh ya...
satu pesan penting saat aku menjumpai Opung Bajora, sepupu Opung yang tinggal di Sidempuan. "Nama baik harus dijaga sekuat tenaga. Uang hilang bisa dicari lagi, tapi nama baik yang rusak tidak bisa dikembalikan lagi"
Demikian penting Opung memesankan hal tersebut, pada kedatanganku di Sidempuan. Sementara saat aku googling soal Opung, ternyata beliau adalah pahlawan kesehatan dan pahlawan pendidikan di Padang Sidempuan.
Semoga Allah berikan Opung panjang umur, kesehatan dan juga rezki yang halal. Sehingga banyak orang yang bisa mendapatkan teladan yang baik darinya.







Rabu, 29 Mei 2013

Kembali ke Kampung Bunga Bondar-Sipirok-Padang Sidempuan

 

Berjuta kata syukur atas nikmat yang Allah berikan, sehingga aku bisa sampai di tanah leluhur keluarga Papa. Dulu, di tahun 2001, aku ingat Papa ingin pulang bersama ke kampung, usai acara pernikahan Bung Pam di Aceh. Tapi apa daya, rencana tinggallah rencana. Niat pulang kampung bersama tak tercapai.

Papa sudah sempat ajak Bung Fiki dan Bung Iwan ke Tarutung yang berjarak kurang lima jam dari Sipirok. Tapi tak sempat untuk singgah di kampung.

Akhirnya, 27 Mei lalu, sampailah aku di Bunga Bondar. Kampung yang sering Papa ceritakan di masa kecilku. Aku sampai di sana, tanpa ada Papa di sampingku. Karena Papa telah berpulang dua tahun lalu.

Bunga Bondar, kampung kecil di kecamatan Sipirok, kabupaten Padang Sidempuan, berada di bawah gunung berapi Sibual-buali. Jadi inget lagu batak yang sering papa nyanyikan.
Berjarak 5 jam dari Parapat Danau Toba, tempat aku berangkat dengan kendaraan L300, usai memisahkan diri dari rombongan kantor yang hendak kembali ke Medan.


Bertemu dengan nenek utur, istri dari Opung Hasa adik bungsu Opung Djafar Diapari. Di Bunga Bondar lah keluarga Diapari bermula. Kujumpai pula makam Toungku Sutan Diapari, kakek dari dokter Diapari. Serta makam orang tua Opung.

Menyimak kisah nenek Utur bercerita tentang orang-orang tua kami.... rasanya tak salah kalau ada dari cucu-cucu Opung yang tekun menjadi penda'wah, mubaligh, dan guru agama. Karena Khalifah Salih pun, orang tua Opung, yang sebenarnya bernama Abdullah Sati dan mendapatkan gelar H Muhammad Saleh Siregar, dikenal sebagai seorang Syeikh yang paham masalah agama.

Benar kata pepatah, air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.
Meski yang namanya iman itu memang tak pernah bisa diwarisi dari ayah atau kakek ke anak dan cucunya.

Bunga Bondar kampung yang islami. Anak-anak sekolah mengenakan baju muslim dan muslimah, tak lupa jilbab untuk anak-anak perempuan. Kaum ibunya pun terbiasa menutup kepala mereka dengan kerudung atau jilbab kaos yang lebih praktis untuk masa sekarang.


Saat ku berkeliling kampung ditemani Bou Ranti yang usianya hanya beda dua tahun denganku, beberapa warga menyapa dan bertanya pada Bou Ranti, siapa yang ikut bersamanya. Bou Ranti menjelaskan bahwa aku adalah anak dari Bung Nuli, cucu dari dokter Diapari. Mereka pun mengakrabi aku. ikut berfoto bersama. Mama bilang, itu karena Opung Djafar semasa hidup selalu banyak memberi kebaikan bagi kampung halamannya.

Ah Opung, aku tak sempat berjumpa denganmu.
Tapi di hampir 40 tahun kau berpulang, orang-orang kampung itu masih mengingatmu dan mengenang kebaikanmu, Opung. Begitulah sebuah amal shalih yang ditunaikan dengan penuh keikhlasan, membekas dan memanjangkan usia, sekalipun sang pelaku sudah menutup mata.

28 Mei aku mengunjungi Opung Bajora di Sidempuan.
Meskipun disebut Opung, karena beliau adalah sepupu dari Opung Djafar, Opung Bajora berusia sama dengan almarhum Papa.

Ketika bercerita bahwa aku adalah cucu Opung Djafar, beliau bercerita tentang keakrabannya dengan Papa dan alm Uwak Djon. Kemudian dia bertanya, "Apa kabarnya Nuli, sehat-sehat dia..??"

"Opung, Papa sudah meninggal dua tahun lalu..."
"Haaah...???!!! Kok tak ada yang kasih kabar..??"

Opung kaget
pastilah merasa kehilangan teman sepermainannya dulu.

Kemudian kutunjukan pada Opung, foto Papa bersama Adil saat di rumah sakit...
"Ah, kau mirip sekali dengan Papamu...."

Betapa ingin kupeluk Opung Bajora....


Selasa, 15 Januari 2013

Lewati Bukit dan Lembah di Ranah Minang

kali ke dua di ranah minang. Kali ini kakiku terjejak ke tempat yang lebih jauh. Bukan sekedar kota Padang. Tapi mobil melaju melewati pariaman, kayu tanam, tanah datar, agam, hingga sampai ke Bukit Tinggi.
Sebentar saja di sana, kami sudah melaju lagi melongok Danau Maninjau di kelok 44.

Perjalanan menuju Bukit Tinggi sungguh indah. Melewati bukit, ngarai, dan lembah yang hijau. Ada pula air terjun di pinggir jalan yang menyejukkan.

entah kenapa terngiang di kupingku, bait lagu... "mangalu lui ngolu ngolu... na boi parbodarian... asal masahat na geleng ki da, sai sahat tu tujuan. Anakhonki do hamoraon di ahu..."

Lagu papa

melewati bukit dan lembah kulalui, asal anakku mencapai tujuannya... anakkulah kebanggaanku...

Ya...
kali ini aku melewati bukit dan lembah
turun lagi ke danau
lewati jalan yang berkelok-kelok

terkenang engkau pa...
ribuan langkah yang kau jalani
demi anak-anakmu
demi keluargamu

Semoga Bahagia kau di sisiNya....

Sabtu, 12 Januari 2013

Sindang Barang: persinggahan yang dibangun dengan rasa bangga

Tahun yang baru sudah datang. Kami melewati hari pertama 2013 dengan berkumpul di rumahku. Ehhmm... gak bener2 kumpul di rumah sebenarnya, tapi cucu-cucu papa nginep di rumah. Trus tanggal 1 pagi ke rumah ummi arfah di klender. Abis itu balik lagi ke kalasan, trus Bung Pam dan bunda-bunda datang.

Menemani anak-anak melewati liburan mereka. Mungkin bukan liburan mahal.... tapi ingin jadikan itu sebagai sarana mereka bersenang-senang.

Sebelumnya kami nginap di sindang barang. Berbagai adegan terjadi... mancing ikan, mandi lumpur, tangkap ikan dengan tangan, nyemplung kolam, panjat pohon... berlari di sawah...

Biarlah anak-anak mengenal alam bebas...
Biarlah anak-anak mencintai rumah Opungnya....
Yang dibangun dengan batu bata kebanggaan.
Dan keringat harga diri

Opung....
Damailah dalam naungan Allah....
Kita bertemu lagi di surga ya.. Insya Allah, atas berkah dan kasih sayangNya pula...


istri-anak-menanti-cucu yang selalu merindukanmu..

Selasa, 06 November 2012

di dua tahun kepulanganmu, Pa


enam hari yang lalu, adik tercintamu berpulang.... Seorang adik yang di hari-hari terakhirnya merindukanmu dan adik-adiknya yang sudah lebih dahulu berpulang. Semoga kita bertemu lagi di taman surgaNya ya...
Papa dan Mama Teti adalah gambaran cinta dua bersaudara yang lahir dari rahim ibu yang sama.
Papa dan Mama Teti adalah pelajaran berharga saling menanggung hingga ujung waktu.
Saat Papa hendak pergi, Mama Teti ikut menanggung sebagian duka itu
Ketika Mama Teti hendak berpulang, Papa sudah menitipkan Bung Iwan untuk menjaga Mama Teti dan menerima beban lara itu
Papa dan Mama Teti... dua bersaudara yang mengerti betul bahwa saling meringankan adalah wujud kepercayaan akan janji Rabb-nya, yang akan memudahkan urusan hambaNya pula di yaumil akhir.
Di dua tahun kepergianmu Pa...
Masih hangat rasa pelukanmu. Masih lekat harum tubuhmu. Masih dekat ciumanmu...
Aku mencintaimu Papa.... Aku selalu mencintaimu....
Aku merindukan pertemuan denganmu di surgaNya nati
Dan hamzah pun suatu hari bertanya, "Ummi, kapan kita bertemu Opung di surga...?"

Hamzah yang mengenal Papa di 15 bulan pertama hidupnya saja, tapi melekat erat bayangan Opung yang selalu merindui tingkahnya. Yang selalu memeluk dan menciumnya. Yang tak segan menjadi teman bermainnya....

Allahummaghfirlahum warhamhum wa'afihim wa'fu anhum
Nuli Salih Siregar Diapari bin Djafar Siregar Diapari
Evita Nurhayati Siregar Diapari bin Djafar Siregar Diapari

Kamis, 23 Agustus 2012

Memancing di rumahmu, Pa

 Lebaran kali ini sebenarnya ada ide untuk piknik ke Taman Safari. Tapi setelah dipikir masak-masak, dan lihat kondisi keuangan yang punya anak banyak... agak sulit merealisasikannya. Meski anak-anak bilang, mereka mau membayar tiket masuk pakai uang mereka sendiri.
Aku usul, lebih baik liburan di Sindang Barang, rumah Opung. Puas-puasin aja, selagi masih memungkinkan untuk dipakai liburan.
Akhirnya di hari ketiga lebaran, berangkatlah ke Sindang Barang. Aku, Aji, Bung Pam dan anak-anak. Mama ada acara di Ciledug dan Tangerang.

Anak-anak memutuskan beli pancingan, dan memancing di kolam lele piaraan Bung Iwan.
ahh.. mereka memang lucu!
Lele-lele itu dikasih umpan bulir jagung, tak lama..."hap!" tertangkaplah Lele di kail-kail pancing.

Lele-lele muda yang kelaparan memang sigap mencaplok kail dari pancingan anak-anak. Saking mudahnya memancing, banyak lele ditangkap dan kemudian dikembalikan ke kolam.

Adilia dan Aizar pun berhasil mendapatkan pancingan. Semuanya pancing Lele.

Jadi ingat saat kecil dulu...

Lele bukan target pancingan aku, tapi justru mendapat tugas untuk menghitung anak-anak lele yang ditanam di kolam. Kalau memancing, aku lebih suka mengincar ikan mujair atau nila yang ada di kolam sebelahnya.

Kan aku gak doyan lele...

Mengingat masa kanak-kanak di sana...
menikmati fasilitas yang diberikan alam pada kebun luas yang dimiliki papa
ada duren
ada sirsak
buah srikaya
rambutan
alpukat
kelengkeng
dan kelapa muda

betapa kaya kehidupan kanak-kanakku, karenamu Pa...

Kamis, 28 Juni 2012

antara manado dan medan

(lampung, 16 mei 2012)


Hari ini aku kembali mengenangmu Pa... setelah ribuan mil kutempuh, dan insya Allah besok akan menyampaikan aku pada Sumatera Utara. Belum, belum sampai Bunga Bondar sana.... tempat kakek dan leluhur kita berada. Kampung halaman itu belum teragendakan untuk disinggahi.

(sunset di depan gunung Manado Tua, Manado 22 Mei 2012)


Mei lalu aku sampai ke Manado.
menjumpai om Chrys, yang ternyata pernah kujumpai saat Om Chrys dan Opa Yan mengunjungi Nenek di Pulo Gebang.
waktu serasa berlari cepat.
 semua tak terasa...
bahkan kau pun sudah tak membersamaiku lagi Pa...

Senin lalu, sepupu Om Chrys menelepon aku.
Beliau om Vicky... yang ternyata sebelum Papa pulang, sempat bersua.
Tapi Om Vicky tak sempat takziyah untukmu Pa...

Karena kecintaanku padamu Pa...
Karena keyakinanku pada perintah Rasulullah....
akan kuusahakan semampuku, untuk terus menjalin silaturahim... tali kasih sayang dengan kerabat saudara dan kawan-kawanmu.
Asal jangan yg satu itu yak... ;) kedip2...

Ah Pa... apa kabar disana...
semoga Allah menjagamu Pa...
karena hanya DIA yang bisa menggenggam semua yang ada di bumi, yang masih hidup dan yang sudah pulang. Tanpa merasa sulit sedikitpun.

 Aku... abang-abang dan adik... akan terus mendoakanmu Pa....
mungkin tak sering menjumpai makammu... t
api sejatinya kau memang selalu dalam hati.
karena darahmu pun mengalir deras dalam tubuh ini...

Sampai bertemu lagi Pa....
 insya Allah di surgaNya nanti, Amin


28 juni 2012 satu hari menuju medan